Panggung menjadi media bagi para seniman tari dalam menunjukkan eksistensinya. Ragam pesan, cerita, nilai budaya, termaktub dalam sajian yang ditampilkan.
Sayangnya, ketersediaan panggung ini menjadi problematika tersendiri. Jumlahnya tak banyak, durasinya pendek, dan sering kali kalah demi kebutuhan komersil.
Baginya, panggung adalah sebuah kebutuhan yang senantiasa dicari, diciptakan, dan diwujudkan. Bukan menunggu.
Layaknya kata mutiara,
“Jadilah cahaya dalam balutan kegelapan yang kelam, jadilah inspirasi yang mampu membuat perbedaan.”



Konsistensi dan komitmen dalam mengembangkan kesenian tari Nusantara sejak tahun 1951
Berbagai jenis panggung yang berhasil diciptakan sepanjang hayat
Ragam karya cipta tari dan sendratari beserta sejarah dan penjelasan
Prestasi dan penghargaan dari perjalanan menjalankan kehidupan seni
Motivasi dan amanat yang dapat dipetik dari kontribusi Sampan Hismanto
Ni Luh Made Dwi Indriati atau yang akrab disapa dengan Wiwiek, telah mengembangkan bakatnya dalam bidang kesenian tari sejak usia 5 tahun. Perjumpaannya dengan sang maestro tari, Sampan Hismanto, ketika penulis belajar di Sanggar Kusuma Budhaya.
Berbagai pengalaman dan prestasinya dalam dunia tari, berhasil ia raih dari kancah nasional hingga internasional, merupakan buah kerja kerasnya di bawah arahan, bimbingan, dan kesempatan sosok Sampan Hismanto.