Sebuah buku yang memuat catatan seseorang yang memiliki prinsip hidup “biarkan Allah yang menggerakkan”.
Buku ini menceritakan bagaimana seseorang dapat memaafkan sekaligus membasuh luka masa lalunya.
Hingga akhirnya dapat menciptakan kehidupan baru bagi dirinya, keluarga kecilnya, dan juga orang-orang di sekitarnya.
(Learner, Writer, dan Personal Mentor)
“Meskipun mengalami pola asuh yang cukup otoriter, Bang Lubis membuktikan bahwa beliau mampu melakukan attentional process yang cukup selektif dengan tidak melakukan proses imitasi terhadap perilaku-perilaku yang kurang menyenangkan yang beliau terima di masa lalu, melainkan hanya melakukan retentional process pada hal-hal yang baik dari pola asuh yang diterapkan orang tuanya sehingga beliau dapat menjadi figur yang berbeda, bahkan berbanding terbalik dengan pola asuh yang diterimanya terdahulu. Membaca buku ini, seperti saya sedang berbicara dan mendengarkan langsung kisah-kisah Bang Lubis. ”
Ni Made Trisna Susanti
(Psikolog)
“Bang Lubis pernah terluka karena pola asuh masa kecilnya cukup keras sehingga membentuk beliau menjadi pribadi yang tegar menghadapi kehidupan. Tempaan masalah demi masalah di masa lalunya menjadikan ia lebih kuat. Sikap humble dan ramah kepada tiap orang menjadi kekhasan sosok Bang Lubis. Selamat menikmati kisah hidup Bang Lubis yang diceritakan oleh istri tercinta dalam karya yang luar biasa ini.”
Anaway Irianti Mansyur
(Aktivis Pendidikan)
“Melalui buku ini, penulis seolah ingin mengatakan bahwa ia menyadari, Bang Lubis bukan hanya miliknya dan keluarganya, melainkan milik banyak orang. Buku ini ditulis dengan gaya bertutur yang sederhana, tetapi menarik dan singkat sehingga tidak membuat jemu, melainkan merangkum semua. Testimoni-testimoni para tokoh meneguhkan bahwa memori bersama Bang Lubis adalah memori milik banyak orang. Perjalanan hidup Bang Lubis terabadikan dalam buku ini sebagai warisan sejarah bagi seluruh kader Partai Gelora Indonesia.”
Dr. Sitaresmi S Soekanto
(MPN Partai Gelora Indonesia)