5 kisah dengan sentuhan magis ini dituliskan berdampingan dengan keresahan yang dirasakan Farsha Bila dalam prosesnya menuju pendewasaan dan penerimaan diri. Kisah-kisah fantasi ini dibuat agar bisa menjadi “teman” bagimu. Ya, buku ini akan menemanimu menghadapi pergolakan batin dalam proses pendewasaan diri, menemukan kembali kepercayaan diri yang hilang, bahkan memperjuangkan keinginan dan impianmu yang telah lama terpendam.
Farsha Bila mulai menulis sejak kecil dan mulai menerbitkan tulisannya pada tahun 2017. Hasil karyanya dalam beberapa buku antologi, di antaranya “Kalau Kau Tidur dengan Dua Tangan di Atas” dalam Pelangi di Negeri Air, “Ayah dan Sayap” dalam Kisah Para Perambah, dan “Biografi Dr. Jonny Setiawan” dalam 25 Kisah Ilmuwan Indonesia yang Mendunia.
Selain menulis, Farsha Bila senang membuat kerajinan tangan, membaca, dan wajib jalan berkeliling tempat baru di setiap pekan.
“Penuh imajinasi, namun tetap relatable dengan kita semua. A fun read bagi yang bisa jadi merasa tidak percaya diri dan tidak mampu mengutarakan pikiran dan perasaannya.”
Sheva
(Penulis Little Grey)
“Farsha berhasil menawarkan cerita surealis berbalut fiksi ilmiah yang mendorong sebuah premis sederhana tentang ambisi manusia untuk tampil mengagumkan di dunia sosial ke level yang lebih jauh. Dengan proporsi yang tepat, cerita ini berhasil membuat saya terkejut, dan meninggalkan pertanyaan: Sudah seberapa manusiawi kita?“
Wisnu Suryaning Adji
(Penulis Rahasia Salinem dan Rencana Besar Untuk Mati dengan Tenang)
“Saya selalu percaya dunia fantasi tak hanya pantas untuk dinikmati anak-anak. Di usia dewasa, kita juga masih berhak membaca karya-karya penuh imajinasi demi tetap memelihara impian dan harapan. Maka dari itu, saya happy banget waktu tahu Farsha akan menerbitkan buku kumpulan cerpen dengan genre fantasi.
Lewat kisah-kisah yang mungkin tampak tak nyata di permukaannya, tokoh-tokoh imajiner, serta petualangan yang hanya bisa dibayangkan di kepala, justru tak menyurutkan penulis untuk menyisipkan pesan-pesan tersirat yang sarat makna. Satu contohnya, dalam cerita berjudul “Lembah Kucing dan Permen Kebahagiaan”, kita bisa mencuil pengalaman yang mungkin relatable bagi banyak orang, yaitu timbulnya rasa insecurity dan ketidakpercayaan diri akan kemampuan untuk meraih bahagia melalui usaha kita sendiri.
Mudah-mudahan karya ciamik Farsha ini bisa menjangkau dan diterima para pembaca seluas-luasnya. Sukses terus dan jangan berhenti bermain-main dengan liarnya daya khayal kita!”
Marina Yudhitia
(Penulis Baby-To-Be, 10 besar Mizan Writing Bootcamp 2022)
“Isu feminisme di dalam cerpen fantasi ini menggambarkan bahwa dinamika kehidupan perempuan begitu menarik hati untuk dipahami, seperti ideologi cantik yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan pengetahuan sekaligus peringatan bagaimana peran, fungsi, serta kedudukannya di tengah masyarakat melalui para tokoh.
Sangat menarik membaca kehidupan tokoh Sari sebagai ujung tombak dari dinamika kehidupan perempuan saat ini, di mana Sari sangat membawa petualangan fantastis yang dapat diselami lebih dalam oleh pembaca dengan mengamati cara-cara cerdik yang digunakan dalam memenuhi norma kecantikan.”
Farrah Eva
(Penulis)